PENDETEKSI RASA SAKIT

Bacaan: Kisah 24:16
NATS: Aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia (Kis. 24:16)

Dokter Paul Bran, misionaris medis di India, berbicara tentang penderita lepra yang mengalami perubahan bentuk tubuh karena ujung-ujung syaraf mereka tak dapat merasakan sakit. Mereka tak akan kesakitan bila melangkah di atas api atau bila jari mereka terluka oleh pisau. Akibatnya, mereka tak sadar jika luka itu terbuka. Ini penyebab terjadinya infeksi dan cacat tubuh.

Dokter Brand menciptakan alat yang akan berbunyi jika terkena api atau benda tajam. Alat itu memperingatkan bila terdapat luka pada orang yang tak dapat merasakan sakit. Segera mesin itu ditempelkan pada jari dan kaki pasien. Alat itu bekerja dengan baik sampai saat mereka hendak bermain bola basket. Mereka akan mencopot alat itu sehingga mereka kerap terluka lagi tanpa menyadarinya.

Seperti fungsi rasa sakit bagi tubuh kita, hati nurani berguna mengingatkan kita akan kerusakan rohani. Namun, dosa yang menjadi kebiasaan dan belum dipertobatkan dapat membuat hati nurani mati rasa (1Tim. 4:1-3). Untuk menjaga kemurnian hati nurani, kita perlu menanggapi rasa sakit akibat kesalahan kita dengan mengaku dosa (1Yoh. 1:9), bertobat (Kis. 26: 20), dan menebus kerugian yang ditanggung sesama akibat perbuatan kita (Luk. 19:8). Dengan yakin Paulus berkata, “Aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia” (Kis. 24:16). Seperti Paulus, kita seharusnya tidak mati rasa pada peringatan Allah yang menyakitkan tentang dosa, tetapi justru mengizinkan peringatan itu menghasilkan karakter saleh dalam diri kita –HDF

Suara hatiku jelas mengerti
Ketetapan firman-Nya yang suci,
Namun dapat tak terkendali
Kalau kutolak perintah ini. –Fraser

HATI NURANI YANG MURNI
IBARAT SEBUAH TILAM YANG LEMBUT

Iklan