RSS

MBAH GINUK

22 Jan

Bacaan: Galatia 6:1-10
NATS: Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah (Galatia 6:9)

Berikut ini adalah cerita dari mahasiswa-mahasiswa sebuah sekolah teologi. Saat memasuki semester akhir, mereka wajib melakukan pelayanan di desa. Dua orang mahasiswa setiap akhir pekan melayani di gereja kecil di sebuah desa. Seusai pelayanan, mereka selalu mendapatkan sepiring pisang goreng pemberian seorang nenek yang tinggal di desa itu. Nenek itu bernama Mbah Ginuk. Selalu begitu.

Suatu kali karena usia tua, Mbah Ginuk meninggal dunia. Para mahasiswa yang biasa melayani di gereja di desa Mbah Ginuk merasa sangat kehilangan. Mereka berangkat pelayanan dengan hati sedih, bukan saja karena tidak lagi akan mendapatkan pisang goreng yang enak, tetapi juga rindu kepada Mbah Ginuk yang memperlakukan mereka seperti cucu sendiri. Namun, yang mengejutkan mereka, setelah mereka selesai melakukan pelayanan, di pastori terhidang sepiring pisang goreng yang tidak kalah lezatnya. “Lo, siapa yang mengirim pisang goreng ini?” tanya mereka dengan nada ingin tahu campur gembira. “Tetangga Mbah Ginuk yang menyediakannya!” ujar orang yang ditanya.

Ternyata kebaikan hati Mbah Ginuk yang itu menjadi inspirasi bagi tetangganya yang juga sudah tua untuk melakukan hal yang sama. Demikianlah perbuatan baik akan melahirkan perbuatan baik lainnya. Maka, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, marilah kita tidak jemu-jemu untuk berbuat baik. Pasti ada banyak cara bagi kita untuk meneladani Mbah Ginuk. Marilah kita menyediakan “pisang goreng” kita sendiri bagi orang-orang yang ada di sekitar kita –XQP

KEBAIKAN HATI TAK DIUKUR DARI BANYAKNYA PEMBERIAN KITA
TETAPI KETULUSAN HATI YANG MENGIRINGINYA

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 22, 2013 in RENUNGAN HARIAN KRISTEN

 

Komentar ditutup.