Johannes Calvin (Konflik yang membawa Harapan)

Mengubah sebuah kesalahan memang bukan perkara mudah, apalagi kesalahan itu berhubungan dengan doktrin gereja yang merupakan wadah umat nasrani dalam menggantungkan seluruh aktivitas relegiusnya.
Dalam keutuhan gereja, fungsi doktrin itu sendiri selalu menjadi sebuah gambaran dan citra diri yang harus dijaga sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Allah. Namun pedoman yang ditetapkan Allah itu didekati dengan cara tafsir yang salah, nilai hiduppun akan mengalami distorsi, dan tidak gambang untuk merubahnya.
Tragedi semacam ini sempat melanda gereja pada abad ke-16, yaitu akibat pendekatan interpretasi yang saling kontradiktif. Pada waktu itu muncul pertentangan antara Yohanes Calvin dengan kepuasan gereja menyangkut berbagai doktrin di antaranya tentang predestinasi, perjamuan kudus, sistem pemerintahan, dan beberapa dotrin penting lainnya.
Pertentangan itu kemudian melahirkan perpecahan yang merongrong citra diri gereja sebagai tubuh Kristus. Namun disisi lain pertentangan itu juga melahirkan berbagai organisasi baru, yang diatur secara terpisah, tetapi tetap mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.
Meskipun ratusan tahun telah berlalu, tidak sedikit dari denominasi gereja yang kemudian bermunculan mengagumi ajaran Calvin. Bahkan, Calvin telah memberi pengaruh besar bagi gereja dan sistem pemerintahan yang hampir merambah ke seluruh dunia. Dengan demikian, ketegaran dan semangat juangnya itu tetap hidup didalam hati ribuan umat manusia.
Bila ditelusuri, karisma Calvin itu telah muncul dalam kehidupannya sejak ia masih kecil, walaupun ia hanya seorang anak desa yang tinggal disebalah utara kota paris, Prancis, karisma yang dikaruniakan kepadanya itu sudah nampak.
Niatnya yang tinggi untuk belajar telah membuat anak dari pasangan Gerard Calvin dan Jeanne Lefranc itu semakin terampil walaupun usianya baru duabelas tahun. Apalagi ia ditunjang dengan pendidikan elementer yang ditempuhnya diistana bangsawan Noyon,Manor,-karena ayahnya memiliki hubungan erat dengan keluarga bangsawan. Tak mengherankan jika anak kelahiran 10 juli 1509 selalu memperlihatkan nilai-nilai kebangsawanan yang mempengaruhi strata sosialnya.hal itu selalu membuatnya berada pada posisi terpandang sehingga ia dengan mudah mendapat pekerjaan dan memiliki penghasilan walaupun usianya masih terhitung remaja. Bahkan dengan penghasilannya itu Calvin mampu membiayai kuliahnya di collage de la marche, Paris.di skolah itulah dia belajar retorika dan bahasa latin dari seorang ahli bernama Marthurin Cordier. Dan setelah itu ia pindah ke collage de Montague untuk belajar filsafat dan teologi bersama-sama dengan temannya Ignatius dari loyola, yang kemudian menjadi musuh besar dalam gerakan reformasi.
Namun keputusan Calvin untuk blajar teologimenimbulkan prasangka di hati ayahnya yang tidak menginginkan Calvin menjadi seorang imam. Oleh sebab itu ayahnya kemudian memindahkannya ke Universitas Orleans untuk belajar ilmu hukum.

Di Universitas tersebut, selain belajar ilmu hukum, Calvin juga ternyata mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani. Dewngan demikian, ia bukan hanya mengetahui 9ilmu Hukum tetapi juga filsafat Yunani dan Yahudi, yang memberi peluang baginya untuk masuk kedalam dunia teologi Alkitab sebagai sumber literatur dari kdua bahasa itu.

Iklan

Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s