RSS

Axiologi : Nilai Estetika Antropologi Budaya

10 Mar

Aksiologi berfikir ilmiah adalah pengabdian hasil pemikiran untuk kepentingan manusia. Adalah tidak benar bahwa berfikir ilmiah itu berarti membebaskan diri dari nilai. Netralitas ilmu hanya terbatas dalam epistemologinya, yaitu dalam proses yang terlihat dalam usaha untuk mencari pengetahuan. Berfikir ilmiah memakai cara yang lugas, netral, tidak memihak dalam arti tidak mau membohongi diri: Mengatakan apa adanya seperti kenyataannya. Atau dengan kata lain bersifat faktual dan obyektif. Namun dalam aksiologinya ilmiah berarti akan menggunakan pengetahuan yang obyektif tadi untuk kemanfaatan manusia. Berkat berfikir ilmiah telah lahir pengetahuan ilmiah yang bermanfaat antara lain untuk menemukan dan mengembangkan kebudayaan manusia.

Setiap unsur kebudayaan universal tersebut menjelma dalam tiga wujud kebudayaan, yaitu yang berupa sistem budaya, sistem sosial, dan berupa unsur-unsur kebudayaan fisik. Misalnya, sistem religi mempunyai wujud sebagai sistem kepercayaan atau keyakinan , dan gagasan tentang Tuhan, dewa, roh halus, neraka, sorga, dan sebagainya, tetapi juga memiliki wujudnya berupa upacara-upacara dan benda-benda religi sebagai atribut ataupun media. Demikian pula dalam kesenian terdapat unsur-unsur universal yang berwujud gagasan-gagasan penciptaan, dan berwujud pula tindakan-tindakan interaksi berpola antar pencipta (seniman) dan penikmat (masyarakat). Dalam kaitan dengan hal tersebut, Leslie White sebagaimana dikutip oleh Prof. H. Juditira K. Garna (1999) mengajukan pandangan bahwa kebudayaan itu merupakan simbol-simbol yang tergantung pada pemakaiannya, yaitu suatu pola tingkah laku, alat pertukangan dan produksinya, ide-ide (kepercayaan dan ilmu pengetahuan), dan sentimen (sikap dan nilai). Selanjutnya disebutkan bahwa kebudayaan itu bermula dari wujudnya manusia, dan diturunkan dari satu generasi ke generasi laiannya yang diakibatkan oleh hakikat kebudayaan yang simbolik itu.

Talcot Parson dan Kroeber dalam Koentjaraningrat (1990), menganjurkan untuk membedakan secara tajam wujud kebudayaan sebagai suatu sistem dari ide-ide dan konsep-konsep sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola. Maka, Honigmann membedakananya dalam tiga gejala kebudayaan, yaitu : (1) sebagai suatu kompleks dariide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya (2) sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat (3) sebagai benda-benda karya manusia. Hasil-hasil dari suatu kebudayaan memiliki nilai kemanfaatan bagi manusia. Maka dalam konteks axiologi dapat dikatakan bahwa suatu budaya memiliki makna bagi kehidupan manusia. Misalnya, seni sebagai suatu produk budaya. Seni, berwujud sebagai artifak atau benda-benda seni yang dapat menggiring manusia pada suatu kepuasan bathiniah dan phisik. Karya seni adalah benda-benda yang berisi tanda-tanda, dan proses berkarya seni adalah gejala-gejala. Dalam pengertian ini sangat jelas bahwa suatu benda seni sebagai tanda memiliki arti atau makna tertentu. Oleh karena itu sering muncul berbagai pertanyaan tentang arti/makna tanda-tanda dalam karya seni rupa. Zwitser Ferdinan de Saussure berpendapat bahwa bahasa dipelajari sebagai suatu sistem tanda-tanda, tetapi bahasa bukanlah satu-satunya tanda. Jauh sebelum Saussure, orang yang pertama mempelajari tanda-tanda tersebut secara sistematik adalah Charles Sanders Peirce. Para ahli yang banyak menulis tentang seni ada yang menggunakan istilah lain seperti komunikasi (communication-Tolstoy), perwujudan (objectification-Santayana), penjelmaan (embodiment-Bosanquet dan Reid), dan simbolisasi (symbolization-Langer dan Arnheim). Kesemuanya bukan pengganti kata ekspresi melainkan istilah yang sejenis.

Kebutuhan estetik setiap individu dalam suatu masyarakat tidak sama, baik segi kuantitas maupun kualitasnya bentuk serta jenisnya, sebab perhatian dan pengalaman hidupnya juga berbeda. Atas dasar itu sudah tentu terdapat perbedaan tanggapan atau perlakuan dari setiap individu dalam satu kelompok sekalipun.  Tanggapan yang berbeda ini merupakan tantangan (secara individual) dan manusia tersebut melakukan antisipasi, yaitu suatu proses dalam kognisi seseorang untuk mempersepsikan, merumuskan, atau mencari alternatif masalah yang dihadapinya itu (Spindler, dalam Rohidi, 1977). Perbedaan pengalaman dan perhatian dari setiap individu terhadap permasalahan, dalam konteks kesenian akan muncul beragam bentuk kreasi seni. Berdasarkan pandangan psikologis, kreasi seni individu merupakan suatu ekspresi dari dorongan naluriah (bawaan) untuk mendapat pengakuan budaya. Berekspresi seni berarti juga mengendorkan atau melepaskan dorongan-dorongan libidonya yang transformasinya melalui ego. Proses transformasi ini dinamakan sublimasi.  Sublimasi adalah suatu proses yang mengarahkan  energi dorongan egoistik (yang naluriah) deri tujuan-tujuan seksual ke arah tujuan yang lebih tinggi.  Tujuan yang lebih tinggi itu misalnya berekspresi seni, agama, moralitas, dan sebagainya yang memiliki kontribusi sosial lebih besar sesuai kegiatan, pikiran, dan cita-cita yang disepakati bersama (Freud dalam Rohidi, 1977).

Oleh karena itu, budaya juga dapat dipandang sebagai sistem simbol (Geertz, 1973), sebab seni-budaya sebagai ekspresi dikaitkan dengan segala bentuk ungkapan aneka macam perasaan atau emosi manusia, dan ditransmisikan sejak anak-anak, baik antargenerasi maupun intragenerasi. Setiap manusia pencipta dan penikmat selalu terlibat dengan upaya pemberian makna estetik terhadap karya yang dibuatnya maupun yang dinikmatinya. Simbol-simbol estetik yang diekspresikan oleh masyarakat budaya tradisional akan menghasilkan simbol estetik yang bersifat kolektif. Seni sebagai simbol estetik dalam beragam wujudnya merupakan ekspresi yang berfungsi individual, sosial, dan budaya. Perwujudan seni yang terbungkus dengan beragam medium menyampaikan nilai-nilai penting. Yang pertama, nilai penampilan (appearance) yang melahirkan “benda” seni atau artifak. Nilai ini terdiri dari nilai bentuk dan nilai struktur. Yang kedua, nilai isi (content) yang dapat terdiri  dari nilai-nilai pengetahuan (kognisi), nilai rasa, intuisi atau bawah sadar manusia, nilai gagasan, nilai pesan atau nilai hidup –seperti nilai moral, nilai sosial, nilai religi, dan sebagainya. Yang ketiga, nilai pengungkapan (presentation) yang menunjukkan adanya nilai-nilai bakat pribadi, nilai ketrampilan, dan nilai medium yang digunakannya. Ketiga dasar nilai tersebut berpadu secara integral dalam satu wujud karya seni (T. Hylland Eriksen. 2001.).

Nilai-nilai seni yang tersirat di balik perwujudan seni selalu berhubungan dengan perkembangan lingkungan sosial dan budaya yang melingkupinya. Di Indonesia, ragam seni yang berkembang diawali dengan munculnya seni kerajinan (tangan) Seperti dinyatakan Wiyoso Yudoseputro (1993) bahwa kesenian adalah hasil karya manusia yang bersumber pada perasaan. Kesenian tidak berdiri sendiri sebab kehadiran seni ada di setiap kehidupan masyarakat. Karena kesenian adalah salah satu bentuk kebudayaan, maka keberadaannya dan perkembangan kesenian suatu masyarakat  ditentukan oleh lingkungan  budayanya di samping lingkungan alamiah.  Kenyataan seperti di atas memang sangat tampak jelas pada seni kerajinan tangan . Sebagai contoh, bentuk-bentuk kerajinan tangan (kriya) di Indonesia tumbuh sumbur pada masyarakat agraris. Kekayaan alam Indonesia dengan  beribu jenis flora aneka warna ternyata sangat mempengaruhi perkembangan seni hias Indonesia. Dalam konstelasi yang lebih luas, bahkan kesenian tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan unsur kebudayaan lainnya, seperti ilmu, agama, filsafat, ekonomi, dan sebagainya.

 
Komentar Dinonaktifkan pada Axiologi : Nilai Estetika Antropologi Budaya

Ditulis oleh pada Maret 10, 2010 in MATERI-MATERI

 

Tag: , , , ,

Komentar ditutup.